Pages

Kata Benda di dalam Bahasa Indonesia

Kata-kata yang dapat diikuti dengan frase yang... atau yang sangat... disebut kata benda. Misalnya:

jalan (yang bagus)
murid (yang rajin)
pemuda (yang sangat rajin)
pelayanan (yang sangat memuaskan)
pertunjukan (yang menarik)

Selain itu, yang disebut kata benda turunan atau kata benda bentukan dapat dikenali dari bentuknya, yang mungkin seperti berikut ini:

berawalan -pe, seperti pemuda, pemenang, penyiar
berakhiran -an, seperti bendungan, bantuan, asuhan
berakhiran -nya, seperti besarnya, naiknya, jatuhnya
berimbuhan gabungan pe - an, seperti pertemuan, pertambangan, persatuan
berimbuhan gabungan ke - an, seperti keadilan, kebijaksanaan, kekayaan

Penggunaan Kata

Kata merupakan unsur yang paling penting di dalam bahasa. Tanpa kata mungkin tidak ada bahasa, sebab kata itulah yang merupakan perwujudan bahasa.

Setiap kata mengandung konsep makna dan mempunayi peran di dalam pelaksanaan bahasa. Konsep dan peran apa yang dimiliki tergantung dari jenis atau macam kata-kata itu, srta penggunaannya di dalam kalimat.

Dilihat dari konsep makna yang dimiliki dan atau peran yang harus dilakukan, kata-kata dibedakan atas beberapa jenis, yaitu:


  1. kata benda
  2. kata ganti
  3. kata kerja
  4. kata sifat
  5. kata sapaan
  6. kata penunjuk
  7. kata bilangan
  8. kata penyangkal
  9. kata depan
  10. kata penghubung
  11. kata keterangan
  12. kata tanya
  13. kata seru
  14. kata sandang
  15. kata partikel
  16. kata fatis

Ejaan Bahasa Indonesia: Penggunaan Huruf Kapital

Dalam bahasa Indonesia, huruf besar atau huruf kapital digunakan untuk:

1. Sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat. 
Contoh:
Ini buku tata bahasa.
Kamu harus giat belajar!
Siapa nama adikmu?

Ejaan Bahasa Indonesia

Pada hakikatnya, ejaan itu tidak lain dari konvensi grafis, perjanjian di antara naggota masyarakat pemakai suatu bahasa untuk menuliskan bahasanya. Bunyi bahasa yang seharusnya diucapkan diganti dengan huruf-huruf dan lambang-lambang lainnya.

Biasanya ejaan itu bukan hanya soal perlambangan fonem dengan huruf saja, tetapi juga mengatur cara penulisan kata dan penulisan kalimat beserta dengan tanda-tanda bacanya.

Ejaan bahasa Indonesia yang berlaku dewasa ini disebut Ejaan (bahasa Indonesia) Yang Disempurnakan (Disingkat EYD). Huruf-huruf yang digunakan adalah huruf Latin, yakni huruf (alfabet) yang digunakan juga oleh sebagian besar bangsa di dunia untuk menuliskan bahasa mereka.

Walaupun alfabet yang digunakan sama tetapi karena ejaan itu hanyalah suatu konvensi grafis, maka sistem penggunaan huruf-huruf itu tidak sama antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain. Bahasa Indonesia pun mempunyai sistem ejaannya sendiri.

Referensi:Chaer, Abdul, 2011. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Cetakan Ketiga, Edisi Revisi. Jakarta, PT Rineka Cipta.

Ciri-ciri Bahasa Indonesia Baku: Penggunaan Kalimat Secara Efektif

Penggunaan kalimat secara efektif artinya kalimat-kalimat yang digunakan dapat dengan tepat menyampaikan pesan pembicara atau penulis kepada pendengar atau pembaca persis seperti yang dimaksud oleh si pembicara atau si penulis.
Keefektifan kalimat dapat dicapai antara lain dengan:

1. Susunan kalimat menurut aturan tata bahasa yang benar. Misalnya,

Bahasa Baku:
Pulau Buton banyak menghasilkan aspal.
Tindakan-tindakan kekerasan itu menyebabkan penduduk dan keluarganya merasa tidak aman.

Bahasa Tidak Baku:
Di Pulau Buton banyak menghasilkan aspal.
Tindakan-tindakan kekerasan itu menyebabkan penduduk merasa tidak aman bersama keluarganya.

2. Adanya kesatuan pikiran dan hubungan yang logis di dalam kalimat. Misalnya:

Bahasa Baku:
Dia datang ketika kami sedang makan.
Loket belum dibuka walaupun hari sudah siang.

Bahasa Tidak Baku:
Ketika kami sedang makan dan dia datang.
Loket belum dibuka walaupun hari tidak hujan.

3. Penggunaan kata secara tepat dan efisien. Misalnya: 

Bahasa Baku:
Korban kecelakaan lalu lintas bulan ini bertambah.
Panen yang gagal memaksa kita mengimpor beras.
Nama gadis yang berbaju merah itu Siti Aminah.
Bayarlah dengan uang pas!

Bahasa Tidak Baku:
Korban kecelakaan lalu lintas bulan ini naik.
Panen yang gagal memungkinkan kita mengimpor beras.
Nama gadis yang mengenakan baju yang mengenakan baju berwarna merah itu Siti Aminah.
Kepada para penumpang diharap supaya membayar dengan uang pas.

4. Penggunaan variasi kalimat atau pemberian tekanan pada unsur kalimat yang ingin ditonjolkan. Misalnya:

Kalimat Biasa:
Dia pergi dengan diam-diam.
Dengan pisau dikupasnya mangga itu.
Karena dia tidak datang kami segera berangkat.

Kalimat Bertekanan:
Pergilah dia engan diam-diam.
Dengan pisaulah dikupasnya mangga itu.
Karena dia tidak datang kami pun segera berangkat.

Referensi:
Chaer, Abdul, 2011. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Cetakan Ketiga, Edisi Revisi. Jakarta, PT Rineka Cipta.

Ciri-ciri Bahasa Indonesia: Penggunaan Ejaan Resmi dalam Ragam Tulis

Ejaan yang kini berlaku dalam bahasa Indonesia adalah ejaan yang ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (disingkat EYD). EYD mengatur dari mulai penggunaan huruf, penulisan kata (dasar, berimbuhan, gabungan, ulang, dan serapan), penulisan partikel, penulisan angka, penulisan unsur serapan, sampau pada penggunaan tanda baca. Misalnya:


Bahasa Baku:
bersama-sama
melipatgandakan
pergi ke pasar
ekspres
sistem

Bahasa Tidak Baku:
bersama2
melipat-gandakan
pergi kepasar
ekpres, espres
sistim

Referensi:

Chaer, Abdul, 2011. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Cetakan Ketiga, Edisi Revisi. Jakarta, PT Rineka Cipta.

Ciri-ciri Bahasa Baku: Penggunaan Kata-kata Baku

Maksud dari penggunaan kata-kata baku dalam bahasa baku adalah kata-kata yang digunakan merupakan kata-kata umum yang sudah lazim digunakan atau yang frekuensi penggunaannya cukup tinggi. Kata-kata yang belum lazim atau yang masih bersifat kedaerahan sebaiknya tidak digunakan, kecuali dengan pertimbangan-pertimbangan khusus, misalnya:

Bahasa Baku:
cantik sekali
lurus saja
masih kacau
uang
tidak mudah
diikat dengan kawat
bagaimana kabarnya

Bahasa Tidak Baku:
cantik banget
lempeng saja
masih semrawut
duit
enggak gampang
diikat sama kawat
gimana kabarnya

Referensi:

Chaer, Abdul, 2011. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Cetakan Ketiga, Edisi Revisi. Jakarta, PT Rineka Cipta.