Pages

Ejaan Bahasa Indonesia: Penggunaan Huruf Kapital

Dalam bahasa Indonesia, huruf besar atau huruf kapital digunakan untuk:

1. Sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat. 
Contoh:
Ini buku tata bahasa.
Kamu harus giat belajar!
Siapa nama adikmu?

Ejaan Bahasa Indonesia

Pada hakikatnya, ejaan itu tidak lain dari konvensi grafis, perjanjian di antara naggota masyarakat pemakai suatu bahasa untuk menuliskan bahasanya. Bunyi bahasa yang seharusnya diucapkan diganti dengan huruf-huruf dan lambang-lambang lainnya.

Biasanya ejaan itu bukan hanya soal perlambangan fonem dengan huruf saja, tetapi juga mengatur cara penulisan kata dan penulisan kalimat beserta dengan tanda-tanda bacanya.

Ejaan bahasa Indonesia yang berlaku dewasa ini disebut Ejaan (bahasa Indonesia) Yang Disempurnakan (Disingkat EYD). Huruf-huruf yang digunakan adalah huruf Latin, yakni huruf (alfabet) yang digunakan juga oleh sebagian besar bangsa di dunia untuk menuliskan bahasa mereka.

Walaupun alfabet yang digunakan sama tetapi karena ejaan itu hanyalah suatu konvensi grafis, maka sistem penggunaan huruf-huruf itu tidak sama antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain. Bahasa Indonesia pun mempunyai sistem ejaannya sendiri.

Referensi:Chaer, Abdul, 2011. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Cetakan Ketiga, Edisi Revisi. Jakarta, PT Rineka Cipta.

Ciri-ciri Bahasa Indonesia Baku: Penggunaan Kalimat Secara Efektif

Penggunaan kalimat secara efektif artinya kalimat-kalimat yang digunakan dapat dengan tepat menyampaikan pesan pembicara atau penulis kepada pendengar atau pembaca persis seperti yang dimaksud oleh si pembicara atau si penulis.
Keefektifan kalimat dapat dicapai antara lain dengan:

1. Susunan kalimat menurut aturan tata bahasa yang benar. Misalnya,

Bahasa Baku:
Pulau Buton banyak menghasilkan aspal.
Tindakan-tindakan kekerasan itu menyebabkan penduduk dan keluarganya merasa tidak aman.

Bahasa Tidak Baku:
Di Pulau Buton banyak menghasilkan aspal.
Tindakan-tindakan kekerasan itu menyebabkan penduduk merasa tidak aman bersama keluarganya.

2. Adanya kesatuan pikiran dan hubungan yang logis di dalam kalimat. Misalnya:

Bahasa Baku:
Dia datang ketika kami sedang makan.
Loket belum dibuka walaupun hari sudah siang.

Bahasa Tidak Baku:
Ketika kami sedang makan dan dia datang.
Loket belum dibuka walaupun hari tidak hujan.

3. Penggunaan kata secara tepat dan efisien. Misalnya: 

Bahasa Baku:
Korban kecelakaan lalu lintas bulan ini bertambah.
Panen yang gagal memaksa kita mengimpor beras.
Nama gadis yang berbaju merah itu Siti Aminah.
Bayarlah dengan uang pas!

Bahasa Tidak Baku:
Korban kecelakaan lalu lintas bulan ini naik.
Panen yang gagal memungkinkan kita mengimpor beras.
Nama gadis yang mengenakan baju yang mengenakan baju berwarna merah itu Siti Aminah.
Kepada para penumpang diharap supaya membayar dengan uang pas.

4. Penggunaan variasi kalimat atau pemberian tekanan pada unsur kalimat yang ingin ditonjolkan. Misalnya:

Kalimat Biasa:
Dia pergi dengan diam-diam.
Dengan pisau dikupasnya mangga itu.
Karena dia tidak datang kami segera berangkat.

Kalimat Bertekanan:
Pergilah dia engan diam-diam.
Dengan pisaulah dikupasnya mangga itu.
Karena dia tidak datang kami pun segera berangkat.

Referensi:
Chaer, Abdul, 2011. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Cetakan Ketiga, Edisi Revisi. Jakarta, PT Rineka Cipta.

Ciri-ciri Bahasa Indonesia: Penggunaan Ejaan Resmi dalam Ragam Tulis

Ejaan yang kini berlaku dalam bahasa Indonesia adalah ejaan yang ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (disingkat EYD). EYD mengatur dari mulai penggunaan huruf, penulisan kata (dasar, berimbuhan, gabungan, ulang, dan serapan), penulisan partikel, penulisan angka, penulisan unsur serapan, sampau pada penggunaan tanda baca. Misalnya:


Bahasa Baku:
bersama-sama
melipatgandakan
pergi ke pasar
ekspres
sistem

Bahasa Tidak Baku:
bersama2
melipat-gandakan
pergi kepasar
ekpres, espres
sistim

Referensi:

Chaer, Abdul, 2011. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Cetakan Ketiga, Edisi Revisi. Jakarta, PT Rineka Cipta.

Ciri-ciri Bahasa Baku: Penggunaan Kata-kata Baku

Maksud dari penggunaan kata-kata baku dalam bahasa baku adalah kata-kata yang digunakan merupakan kata-kata umum yang sudah lazim digunakan atau yang frekuensi penggunaannya cukup tinggi. Kata-kata yang belum lazim atau yang masih bersifat kedaerahan sebaiknya tidak digunakan, kecuali dengan pertimbangan-pertimbangan khusus, misalnya:

Bahasa Baku:
cantik sekali
lurus saja
masih kacau
uang
tidak mudah
diikat dengan kawat
bagaimana kabarnya

Bahasa Tidak Baku:
cantik banget
lempeng saja
masih semrawut
duit
enggak gampang
diikat sama kawat
gimana kabarnya

Referensi:

Chaer, Abdul, 2011. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Cetakan Ketiga, Edisi Revisi. Jakarta, PT Rineka Cipta.

Ciri-ciri Bahasa Baku: Penggunaan Kaidah Tata Bahasa Normatif

Kaidah tata bahasa normatif selalu digunakan secara eksplisit dan konsisten. Misalnya, dengan jalan:

1. Pemakaian awalan me- dan awalan ber- secara eksplisit dan konsisten, misalnya:

Bahasa Baku:
Gubernur meninjau daerah kebakaran.
Pintu pelintasan kereta itu bekerja secara otomatis.
Anaknya bersekolah di Bandung.

Bahasa Tidak Baku:
Gubernur tinjau daerah kebakaran.
Pintu pelintasan kereta itu kerja secara otomatis.
Anaknya sekolah di Bandung.

Ciri-ciri Bahasa Baku

Yang dimaksud dengan bahasa baku adalah salah satu ragam bahasa yang dijadikan pokok, yang dijadikan dasar ukuran atau yang dijadikan standar. Ragam bahasa baku ini lazim digunakan dalam:
  1. Komunikasi resmi, yakni dalam surat-menyurat resmi, surat menyurat dinas, pengumuman-pengumuman yang dikeluarkan oleh instansi resmi, perundang-undangan, penanaman dan peristilahan resmi, dan sebagainya.
  2. Wacana teknis, seperti dalam laporan resmi, karangan ilmiah, buku pelajaran, dan sebagainya.
  3. Pembicaraan di depan umum, seperti dalam ceramah, kuliah, khotbah, dan sebagainya.
  4. Pembicaraan dengan orang yang dihormati, dan sebagainya.
Pemakaian (1) dan (2) didukung oleh ragam bahasa baku tertulis, sedangkan pemakaian (3) dan (4) didukung oleh ragam bahasa baku lisan.

Ragam bahasa baku dapat ditandai dengan ciri-cirinya (silakan klik tautan).

Referensi:

Chaer, Abdul, 2011. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Cetakan Ketiga, Edisi Revisi. Jakarta, PT Rineka Cipta.

Ragam Bahasa

Setiap bahasa sebenarnya mempunyai ketetapan atau kesamaan dalam hal tata bunyi, tata bentuk, tata kalimat, dan tata makna. Tetapi karena berbagai faktor yang terdapat di dalam masyarakat pemakai bahasa itu, seperti usia, pendidikan, agama, bidang kegiatan dan profesi, dan latar belakang budaya daerah, maka bahasa itu menjadi tidak seragam benar. Bahasa itu menjadi beragam. Mungkin tata bunyinya menjadi tidak persis sama, mungkin tata bentuk dan tata katanya, dan mungkin juga tata kalimatnya.

Keragaman bahasa ini terjadi juga dalam bahasa Indonesia. Akibat berbagai fator seperti yang disebutkan di atas, maka bahasa Indonesia pun mempunyai ragam bahasa. Ragam bahasa Indonesia yang ada antara lain:

Fungsi Bahasa

Fungsi bahasa yang terutama adalah sebagai alat untuk bekerja sama atau berkomunikasi di dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk berkomunikasi sebenarnya dapat juga digunakan cara lain, misalnya isyarat, lambang-lambang gambar atau kode-kode tertentu lainnya. Tetapi, dengan bahasa, komunikasi dapat berlangsung lebih baik dan lebih sempurna.

Bahasa Indonesia sendiri, yang mempunyai kedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi negara di tengah-tengah berbagai macam bahasa daerah, mempunyai fungsi sebagai berikut:

Hakikat Bahasa

Sebelum membicarakan apa dan bagaimana bahasa baku, ada baiknya kita lihat dulu apa hakikat bahasa, fungsi bahasa, dan ragam bahasa atau variasi bahasa.

Hakikat Bahasa

Bahasa adalah suatu sistem lambang berupa bunyi, bersifat arbitrer, digunakan oleh suatu masyarakat tutur untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri.

Sebagai sebuah sistem, maka bahasa terbentuk oleh suatu aturan, kaidah atau pola-pola tertentu, baik dalam bidang tata bunyi, tata bentuk kata, maupun tata kalimat. Bila aturan, kaidah, atau pola ini dilanggar, maka komunikasi dapat terganggu.