Penggunaan kalimat secara efektif artinya kalimat-kalimat yang digunakan dapat dengan tepat menyampaikan pesan pembicara atau penulis kepada pendengar atau pembaca persis seperti yang dimaksud oleh si pembicara atau si penulis.
Keefektifan kalimat dapat dicapai antara lain dengan:
1. Susunan kalimat menurut aturan tata bahasa yang benar. Misalnya,
Bahasa Baku:
Pulau Buton banyak menghasilkan aspal.
Tindakan-tindakan kekerasan itu menyebabkan penduduk dan keluarganya merasa tidak aman.
Bahasa Tidak Baku:
Di Pulau Buton banyak menghasilkan aspal.
Tindakan-tindakan kekerasan itu menyebabkan penduduk merasa tidak aman bersama keluarganya.
2. Adanya kesatuan pikiran dan hubungan yang logis di dalam kalimat. Misalnya:
Bahasa Baku:
Dia datang ketika kami sedang makan.
Loket belum dibuka walaupun hari sudah siang.
Bahasa Tidak Baku:
Ketika kami sedang makan dan dia datang.
Loket belum dibuka walaupun hari tidak hujan.
3. Penggunaan kata secara tepat dan efisien. Misalnya:
Bahasa Baku:
Korban kecelakaan lalu lintas bulan ini bertambah.
Panen yang gagal memaksa kita mengimpor beras.
Nama gadis yang berbaju merah itu Siti Aminah.
Bayarlah dengan uang pas!
Bahasa Tidak Baku:
Korban kecelakaan lalu lintas bulan ini naik.
Panen yang gagal memungkinkan kita mengimpor beras.
Nama gadis yang mengenakan baju yang mengenakan baju berwarna merah itu Siti Aminah.
Kepada para penumpang diharap supaya membayar dengan uang pas.
4. Penggunaan variasi kalimat atau pemberian tekanan pada unsur kalimat yang ingin ditonjolkan. Misalnya:
Kalimat Biasa:
Dia pergi dengan diam-diam.
Dengan pisau dikupasnya mangga itu.
Karena dia tidak datang kami segera berangkat.
Kalimat Bertekanan:
Pergilah dia engan diam-diam.
Dengan pisaulah dikupasnya mangga itu.
Karena dia tidak datang kami pun segera berangkat.
Referensi:
Chaer, Abdul, 2011. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Cetakan Ketiga, Edisi Revisi. Jakarta, PT Rineka Cipta.
Keefektifan kalimat dapat dicapai antara lain dengan:
1. Susunan kalimat menurut aturan tata bahasa yang benar. Misalnya,
Bahasa Baku:
Pulau Buton banyak menghasilkan aspal.
Tindakan-tindakan kekerasan itu menyebabkan penduduk dan keluarganya merasa tidak aman.
Bahasa Tidak Baku:
Di Pulau Buton banyak menghasilkan aspal.
Tindakan-tindakan kekerasan itu menyebabkan penduduk merasa tidak aman bersama keluarganya.
2. Adanya kesatuan pikiran dan hubungan yang logis di dalam kalimat. Misalnya:
Bahasa Baku:
Dia datang ketika kami sedang makan.
Loket belum dibuka walaupun hari sudah siang.
Bahasa Tidak Baku:
Ketika kami sedang makan dan dia datang.
Loket belum dibuka walaupun hari tidak hujan.
3. Penggunaan kata secara tepat dan efisien. Misalnya:
Bahasa Baku:
Korban kecelakaan lalu lintas bulan ini bertambah.
Panen yang gagal memaksa kita mengimpor beras.
Nama gadis yang berbaju merah itu Siti Aminah.
Bayarlah dengan uang pas!
Bahasa Tidak Baku:
Korban kecelakaan lalu lintas bulan ini naik.
Panen yang gagal memungkinkan kita mengimpor beras.
Nama gadis yang mengenakan baju yang mengenakan baju berwarna merah itu Siti Aminah.
Kepada para penumpang diharap supaya membayar dengan uang pas.
4. Penggunaan variasi kalimat atau pemberian tekanan pada unsur kalimat yang ingin ditonjolkan. Misalnya:
Kalimat Biasa:
Dia pergi dengan diam-diam.
Dengan pisau dikupasnya mangga itu.
Karena dia tidak datang kami segera berangkat.
Kalimat Bertekanan:
Pergilah dia engan diam-diam.
Dengan pisaulah dikupasnya mangga itu.
Karena dia tidak datang kami pun segera berangkat.
Referensi:
Chaer, Abdul, 2011. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Cetakan Ketiga, Edisi Revisi. Jakarta, PT Rineka Cipta.
No comments:
Post a Comment
Apakah Anda sudah paham dengan uraian di atas? Silakan berkomentar.